Skip to content
  • Beranda
  • Produk
    • Email Security and Protection
    • Threat Protection
    • Security Awareness Training
    • Cloud Security
    • Archiving and Compliance
  • Solusi
    • Healthcare
    • Finansial dan Asuransi
    • Protection and Compliance
  • Blog
  • Hubungi Kami
placeholder-661-1-1.png
  • Beranda
  • Produk
    • Email Security and Protection
    • Threat Protection
    • Security Awareness Training
    • Cloud Security
    • Archiving and Compliance
  • Solusi
    • Healthcare
    • Finansial dan Asuransi
    • Protection and Compliance
  • Blog
  • Hubungi Kami

Month: October 2026

12 October 2026

Proofpoint: Mengelola Risiko Email Vendor & Partner

Mengelola Risiko Email Eksternal di Lingkungan Enterprise Dalam dunia bisnis modern, perusahaan tidak hanya berkomunikasi melalui email dengan karyawan internal. Hampir setiap organisasi kini memiliki ekosistem kompleks yang terdiri dari vendor, supplier, distributor, konsultan, partner bisnis, kontraktor, hingga pelanggan setia. Interaksi dengan pihak eksternal ini memang krusial untuk menjalankan operasional perusahaan sehari-hari. Namun, dari sisi cybersecurity, email yang berasal dari vendor dan partner sering menjadi jalur risiko yang sangat berbahaya. Masalah utamanya adalah email dari pihak eksternal sering kali terlihat sangat legitimate atau sah. Nama perusahaan terlihat dikenal, domain tampak benar, dan isi pesan sering kali sangat relevan dengan aktivitas bisnis yang sedang berlangsung. Situasi tersebut membuat serangan berbasis email menjadi semakin sulit dikenali oleh sistem keamanan konvensional. Di sinilah pendekatan keamanan seperti Proofpoint hadir untuk membantu perusahaan mengelola risiko komunikasi eksternal tanpa harus menghambat produktivitas bisnis Anda. Mengapa Email dari Pihak Eksternal Menjadi Tantangan? Perusahaan biasanya memiliki volume komunikasi yang sangat tinggi dengan pihak ketiga. Sebagai contoh, vendor sering mengirimkan invoice, supplier mengirimkan purchase order, partner mengirim kontrak, dan konsultan mengirim laporan rutin. Semua aktivitas tersebut terlihat sangat normal dalam alur kerja bisnis. Namun, para pelaku serangan atau attacker dengan cerdik memanfaatkan hubungan bisnis yang sudah saling percaya ini. Sebagai contoh, seorang penyerang mungkin menyamar sebagai supplier resmi dan mengirim email yang meminta perubahan rekening pembayaran dengan alasan administratif. Bagi tim keuangan, email tersebut tampak seperti komunikasi biasa. Jika perusahaan tidak memiliki mekanisme verifikasi yang tepat, risiko kerugian finansial akibat fraud akan menjadi sangat tinggi. Bahaya Vendor Email Compromise Salah satu skenario yang sangat perlu diwaspadai adalah ketika akun pihak eksternal telah compromised atau dibajak. Misalnya, perusahaan Anda bekerja sama secara rutin dengan supplier B yang memiliki kredibilitas tinggi. Jika kotak surat atau mailbox supplier tersebut berhasil diambil alih oleh peretas, mereka tidak perlu lagi menggunakan alamat email palsu yang mencurigakan. Mereka cukup mengirim pesan dari akun yang memang sudah dipercaya oleh sistem dan karyawan Anda. Inilah mengapa kompromi akun pihak ketiga menjadi salah satu ancaman paling berbahaya saat ini. Trusted Relationship Sebagai Celah Serangan Dalam dunia keamanan siber, kepercayaan antarorganisasi sering kali disalahgunakan dan menjadi attack surface. Perusahaan mungkin sudah menerapkan penyaringan atau filtering yang sangat ketat terhadap domain asing yang tidak dikenal. Namun, email dari vendor yang sudah lama dikenal sering kali mendapatkan tingkat kepercayaan (trust level) yang lebih tinggi dari biasanya. Penting bagi perusahaan untuk mulai membedakan antara known sender dan trusted sender. Perlu diingat bahwa alamat email yang dikenal belum tentu menjamin keamanan konten di dalamnya. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih canggih seperti Proofpoint sangat diperlukan untuk mendeteksi anomali pada komunikasi yang terlihat “normal” tersebut. Business Email Compromise (BEC) Business Email Compromise atau BEC merupakan bentuk serangan yang memanfaatkan komunikasi bisnis secara manipulatif. Target utamanya biasanya mencakup departemen keuangan, pengadaan (procurement), manajemen, hingga bagian sumber daya manusia. Serangan ini sering menggunakan konteks bisnis yang sangat meyakinkan, seperti instruksi pembayaran ke rekening baru karena alasan teknis. Sering kali, pengguna tidak menyadari serangan ini karena email dikemas dengan sangat profesional. Penyerang menggunakan bahasa yang formal, mencantumkan logo perusahaan, tanda tangan email yang asli, bahkan menyertakan informasi transaksi yang benar dari utas percakapan sebelumnya. Ketika email terlihat sesempurna itu, bahkan karyawan yang paling teliti pun bisa menjadi korban. Pendekatan People-Centric Security Proofpoint menggunakan pendekatan unik yang menempatkan manusia sebagai pusat dari strategi keamanan. Pendekatan ini sangat penting karena serangan modern tidak selalu mencoba menembus firewall secara teknis, melainkan mencoba memanipulasi psikologi pengguna. Penyerang ingin agar pengguna secara sukarela melakukan tindakan berbahaya, seperti mengklik tautan, membuka lampiran, atau menyetujui transaksi palsu. Dengan memahami siapa saja individu di dalam organisasi yang paling berisiko, perusahaan dapat menerapkan perlindungan yang lebih terarah dan efektif. Melindungi departemen keuangan, misalnya, membutuhkan prosedur bisnis yang ketat. Perubahan data sensitif seperti nomor rekening tidak boleh hanya didasarkan pada instruksi email, melainkan harus diverifikasi melalui saluran komunikasi sekunder yang resmi. Strategi Perlindungan Komprehensif Untuk membangun sistem pertahanan yang tangguh, perusahaan perlu menerapkan strategi berlapis: Email Filtering: Melakukan pemeriksaan mendalam terhadap setiap email masuk. Identity Security: Melindungi akun pengguna dengan MFA dan monitoring akses yang ketat. User Awareness: Meningkatkan kesadaran karyawan untuk mengenali tanda-tanda serangan phishing. Business Verification: Menerapkan prosedur verifikasi manual untuk aktivitas finansial berisiko tinggi. Incident Response: Mempersiapkan langkah cepat jika terjadi kompromi pada akun. Selain itu, penggunaan penanda seperti External Sender Warning dapat membantu memberikan konteks kepada pengguna, selama diterapkan dengan bijak agar tidak menyebabkan alert fatigue atau kelelahan peringatan. Kesimpulan Vendor dan partner adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem bisnis, namun hubungan tersebut juga membawa risiko keamanan yang nyata. Perusahaan tidak cukup hanya memblokir email mencurigakan. Mereka membutuhkan pendekatan menyeluruh yang mencakup perlindungan identitas, pemantauan perilaku, dan proses bisnis yang aman. Dengan solusi dari Proofpoint, organisasi dapat mengurangi risiko komunikasi eksternal secara signifikan tanpa mengorbankan kelancaran operasional bisnis mereka. Proofpoint Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi Proofpoint. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.

Read More
12 October 2026

Proofpoint: Kenapa Phishing Modern Sulit Dibedakan?

Mengapa Phishing Modern Semakin Sulit Dikenali? Proofpoint kini menjadi sorotan utama dalam dunia keamanan siber. Ancaman phishing sebenarnya telah ada sejak awal era internet. Namun, metode yang digunakan oleh penjahat siber kini terus berevolusi mengikuti perubahan teknologi dan perilaku manusia. Dulu, kita bisa dengan mudah mengenali email berbahaya melalui kesalahan tata bahasa, alamat pengirim yang aneh, atau penawaran hadiah yang tidak masuk akal. Situasi tersebut telah berubah drastis saat ini. Serangan siber kini jauh lebih canggih, terencana, dan meyakinkan. Penjahat siber menggunakan bahasa profesional, konteks bisnis yang sangat relevan, dan identitas tiruan yang menyerupai rekan kerja atau atasan. Inilah alasan mengapa strategi keamanan email tradisional tidak lagi memadai. Pergeseran Paradigma dalam Serangan Phishing Phishing modern kini lebih fokus pada pemanfaatan kepercayaan atau trust. Penjahat tidak selalu ingin membuat korban percaya bahwa mereka memenangkan undian besar. Sebaliknya, mereka ingin korban yakin bahwa email tersebut adalah bagian dari alur kerja sehari-hari. Sebagai contoh, pesan seperti “Berikut revisi kontrak yang kita bahas kemarin” atau “Mohon review invoice terlampir sebelum pukul 15.00” terlihat sangat normal. Justru karena terlihat seperti aktivitas bisnis rutin, korban menjadi kurang waspada. Ketika kewaspadaan menurun, risiko keamanan pun meningkat secara signifikan. Unsur Psikologis dalam Social Engineering Pada dasarnya, phishing bukan sekadar masalah teknologi. Ada unsur psikologis yang bermain di sana, yang sering kita kenal sebagai social engineering. Penjahat siber memanipulasi emosi korban menggunakan faktor urgensi, rasa takut, otoritas, hingga rasa ingin tahu. Misalnya, sebuah email yang mengatasnamakan direktur perusahaan mungkin berbunyi: “Saya sedang meeting penting. Tolong segera proses pembayaran ini sekarang juga.” Karyawan sering merasa tertekan oleh otoritas dan takut untuk menolak, sehingga mereka cenderung melakukan apa yang diminta tanpa verifikasi lebih lanjut. Business Email Compromise (BEC) sebagai Ancaman Nyata Business Email Compromise atau BEC merupakan contoh nyata serangan yang mengeksploitasi identitas. Penjahat siber mencoba mengambil alih akun email, meniru eksekutif, atau membajak percakapan yang sedang berlangsung. Target mereka bukan sekadar mencuri kredensial, melainkan kerugian finansial atau pencurian data bisnis rahasia. Oleh karena itu, Proofpoint hadir sebagai solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pelatihan keamanan bagi pengguna. Meskipun security awareness training sangat penting, ia tidak mampu menghilangkan risiko secara total mengingat volume email yang diterima setiap karyawan bisa mencapai ratusan setiap hari. Pendekatan People-Centric Security Proofpoint menerapkan pendekatan people-centric security. Fokus utamanya adalah risiko yang berasal dari manusia, identitas, email, dan data. Pendekatan ini sangat krusial karena setiap karyawan memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda di perusahaan. Sebagai contoh, staf departemen keuangan memiliki akses ke data pembayaran, sementara eksekutif sering menjadi target peniruan. Oleh karena itu, perlindungan harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing pengguna. Dengan menerapkan risk-based approach, perusahaan dapat memberikan kebijakan yang lebih ketat bagi pengguna dengan tingkat risiko tinggi. Perlindungan Berlapis untuk Keamanan Maksimal Link Protection: Menganalisis reputasi tautan berdasarkan destinasi dan konteks agar tidak mengarah ke situs penipuan. Attachment Protection: Memeriksa setiap lampiran file yang berpotensi mengandung malware atau script berbahaya. Identity Protection: Mendeteksi perilaku login yang tidak wajar, lokasi asing, atau penggunaan perangkat baru yang mencurigakan. AI dan Masa Depan Ancaman Keamanan Kecerdasan buatan atau AI kini mempercepat kemampuan penjahat siber dalam membuat pesan yang natural dan meyakinkan. Berdasarkan laporan riset terbaru, penggunaan AI telah membuat serangan seperti ransomware menjadi lebih efektif. Namun, organisasi tidak boleh terlalu agresif dalam memblokir email agar produktivitas tidak terganggu. Keseimbangan antara proteksi dan kenyamanan pengguna tetap menjadi kunci utama. Selain itu, sistem respons insiden (incident response) harus siap dijalankan jika terjadi kegagalan keamanan. Kecepatan tindakan dalam menarik email berbahaya dan mereset kredensial korban sangat menentukan tingkat kerugian yang diderita organisasi. Pelatihan yang berkelanjutan juga harus dibudayakan agar menjadi kebiasaan, bukan sekadar tugas tahunan. Kesimpulan Phishing modern telah menjadi ancaman yang sangat sulit dideteksi karena memanfaatkan aspek psikologis dan konteks bisnis yang sangat rapi. Perusahaan membutuhkan strategi berlapis yang menggabungkan teknologi canggih, analisis perilaku, serta sistem respons yang tanggap. Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan dapat membangun pertahanan siber yang lebih tangguh dan adaptif. Proofpoint Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi Proofpoint. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.

Read More
12 October 2026

Proofpoint: Strategi Amankan Email Eksekutif dari BEC

Strategi Mengamankan Email Eksekutif dari Business Email Compromise (BEC) dengan Proofpoint Email eksekutif sering menjadi target utama bagi para penjahat siber. Akun milik CEO, direktur, hingga manajer keuangan menyimpan akses komunikasi serta otoritas tinggi di dalam perusahaan. Oleh karena itu, Proofpoint hadir sebagai solusi strategis untuk menghadapi ancaman yang memanfaatkan email, identitas, dan perilaku manusia. Ketika penyerang berhasil mengambil alih akun eksekutif, mereka tidak langsung mencuri data secara terang-terangan. Sebaliknya, mereka sering menyamar sebagai korban untuk mengirimkan instruksi palsu. Ancaman ini dikenal secara luas sebagai Business Email Compromise atau BEC. Apa Itu Business Email Compromise (BEC)? BEC adalah bentuk serangan siber yang memanfaatkan komunikasi bisnis untuk menipu atau mencuri informasi sensitif. Menariknya, serangan ini tidak selalu membutuhkan malware atau skrip berbahaya. Penyerang hanya memanfaatkan identitas korban, pengetahuan proses bisnis, dan teknik social engineering yang canggih. Inilah alasan mengapa sistem keamanan tradisional sering gagal mendeteksi serangan BEC. Karena email tersebut tampak sangat legitim dan berasal dari alamat resmi, filter antivirus standar tidak akan mengenalinya sebagai ancaman. Di sinilah teknologi dari Proofpoint berperan krusial dalam mendeteksi anomali perilaku. Mengapa Eksekutif Menjadi Target Utama? Eksekutif memiliki akses terhadap informasi bernilai tinggi, seperti strategi perusahaan, data merger, hingga persetujuan pembayaran. Selain itu, email dari petinggi perusahaan biasanya mendapatkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi dari karyawan. Jika seorang staf menerima instruksi dari CEO, mereka cenderung langsung patuh tanpa melakukan verifikasi mendalam. Penyerang biasanya memulai aksinya melalui phishing untuk mencuri kredensial. Setelah berhasil masuk, mereka akan melakukan reconnaissance atau pengintaian. Mereka mempelajari siapa vendor Anda, kapan jadwal pembayaran invoice, dan bagaimana gaya komunikasi internal perusahaan. Informasi ini kemudian digunakan untuk melancarkan penipuan yang sangat meyakinkan. Account Takeover dan Impersonation Terdapat dua skenario berbahaya dalam serangan BEC. Pertama adalah Account Takeover, di mana penyerang mendapatkan akses penuh ke kotak surat korban. Mereka bisa membaca pesan, membuat aturan penerusan email, hingga memantau transaksi bisnis secara real-time. Kedua adalah Impersonation atau peniruan. Dalam skenario ini, penyerang tidak perlu membobol akun. Mereka hanya membuat domain atau alamat email yang mirip dengan aslinya. Misalnya, mengganti huruf ‘o’ dengan angka ‘0’ dalam alamat email. Kesalahan kecil ini sering kali tidak disadari oleh karyawan yang sedang sibuk. Pentingnya Konteks dalam Email Security Pemeriksaan sederhana seperti pemindaian lampiran tidak lagi cukup. Email BEC sering kali tidak mengandung malware atau tautan berbahaya. Isinya biasanya hanya berupa permintaan transfer dana yang terlihat normal. Namun, sistem yang cerdas akan melihat adanya anomali konteks. Jika seorang eksekutif yang biasanya tidak pernah mengurus pembayaran tiba-tiba meminta transfer ke rekening baru, sistem harus memberikan peringatan. Konteks perilaku inilah yang menjadi fokus utama dalam strategi perlindungan berbasis people-centric. Melindungi VIP User di Perusahaan Perusahaan wajib mengategorikan pengguna dengan risiko tinggi sebagai VIP. Kelompok ini mencakup CEO, CFO, HR, hingga departemen procurement. Pengguna dalam kategori ini memerlukan kebijakan keamanan yang jauh lebih ketat dibandingkan pengguna biasa. Kebijakan tersebut meliputi deteksi impersonation secara agresif, monitoring login yang tidak biasa, serta analisis email eksternal secara mendalam. Dengan Proofpoint, perusahaan dapat menetapkan aturan khusus untuk komunikasi sensitif yang melibatkan para pemegang otoritas tinggi. Sinergi Keamanan Siber dan Proses Bisnis Teknologi keamanan tidak bisa berdiri sendiri tanpa didukung proses bisnis yang solid. Misalnya, setiap perubahan rekening vendor harus melalui kanal verifikasi kedua. Kebijakan seperti verifikasi telepon atau dual approval akan mempersulit penyerang meskipun mereka berhasil memalsukan email. Selain itu, pelatihan bagi pengguna berisiko tinggi juga harus dilakukan secara rutin. Simulasi serangan, seperti invoice palsu atau permintaan transfer mendesak, sangat membantu tim keuangan mengenali pola serangan BEC sebelum terjadi kerugian finansial yang nyata. Monitoring dan Incident Response Monitoring perubahan pada kotak surat adalah kunci pendeteksi dini. Waspadai aturan penerusan email baru, login dari lokasi asing, atau aktivitas pengiriman pesan di luar jam kerja. Jika terjadi compromise, tim keamanan harus bertindak cepat untuk memutus sesi dan mengganti kredensial. Kecepatan dalam melakukan investigasi akan menentukan seberapa besar dampak yang bisa diminimalisir. Semakin cepat tim menanggapi insiden, semakin kecil risiko kebocoran informasi atau kerugian finansial yang dialami perusahaan. Kesimpulan BEC bukan sekadar masalah teknis, melainkan perpaduan antara teknologi, identitas, dan kepercayaan manusia. Perusahaan memerlukan pendekatan holistik yang mencakup perlindungan identitas, pelatihan kesadaran pengguna, serta sistem monitoring yang canggih. Dengan menerapkan strategi yang tepat, Anda dapat menutup celah yang sering dimanfaatkan penyerang untuk merusak reputasi dan keuangan bisnis. Proofpoint Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi Proofpoint. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.

Read More

Recent Posts

  • Proofpoint: Mengelola Risiko Email Vendor & Partner
  • Proofpoint: Kenapa Phishing Modern Sulit Dibedakan?
  • Proofpoint: Strategi Amankan Email Eksekutif dari BEC
  • Proofpoint dan AI Security: Melindungi Data Perusahaan
  • Proofpoint di Era AI: Evolusi Keamanan Email Modern

Archives

  • October 2026
  • September 2026
  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • August 2024
  • July 2024

Categories

  • blog

Meta

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

Proofpoint Indonesia adalah bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi Proofpoint. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.

Kontak Kami

PT iLogo Indonesia

AKR Tower – 9th Floor
Jl. Panjang no. 5, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11530 – Indonesia

  • proofpoint@ilogoindonesia.id